Anak Muda dan Penyakit Seksual

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Anak Muda dan Penyakit Seksual

Post by Admin on Fri Mar 21, 2008 8:01 pm

Meningkatnya kecenderungan melakukan seks pranikah di kalangan remaja, memunculkan kekhawatiran naiknya kasus penyakit hubungan seksual (PHS). Perlu bimbingan persuasif orang tua dan guru.

Perubahan zaman ikut memunculkan keterbukaan seksualitas. Masalah intim tak lagi sekadar fungsi reproduksi, tapi juga rekreatif. Pada fungsi terakhir inilah, sayangnya, kaum muda banyak terlibat.

Tentu saja, ini pun sesungguhnya sebuah perilaku yang datang dari seberang, mendarat di Tanah Air. Menurut hasil studi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, sedikitnya satu dari empat remaja putri di sana atau lebih dari 3 juta remaja putri terjangkit penyakit yang ditularkan lewat hubungan seks (PHS).

Dari 838 remaja putri yang mengikuti hasil survei kesehatan pemerintah AS diketahui terjangkit empat jenis infeksi yaitu virus papilloma manusia atau HPV, yang dapat mengakibatkan kanker leher rahim, diderita oleh 18% peserta, chlamydia diderita oleh 4% peserta, trichomonisiasis, 2,5% peserta dan virus herpes simplex, diderita 2% peserta.

Dr John Douglas, direktur divisi PHS dari Badan Pengendalian Penyakit AS, menjelaskan hasil studi tahun 2003-2004 ini merupakan yang pertama digunakan untuk memeriksa prevalansi nasional gabungan PHS diantara remaja putri di AS. “Data tersebut merefleksikan tingkat berjangkitnya infeksi PHS akhir-akhir ini,” ujarnya.

Sementara sekitar separuh peserta survei atau sekitar 40% mengaku pernah berhubungan seks. Sedangkan peserta lainnya mengaku melakukan oral seks yang berisiko pada terjangkitnya PHS.

Bicara seksualitas dan kesehatan reproduksi di usia remaja memang mengasyikan, kendati sebagian masih menganggap hal ini tabu dibicarakan. Padahal masa remaja merupakan masa peralihan dimana banyak sekali terjadi perubahan pada sistem reproduksi dan dorongan seksual.

"Perubahan biologis tersebut yang mendorong keinginan mereka untuk mencari informasi atas apa yang terjadi pada dirinya," kata Dr. Mulyadi Tedjapranata, MD.

Pada umumnya remaja mendapatkan informasi mengenai seks dari lingkungan pergaulannya. Padahal informasi yang mereka dapatkan itu belum tentu semuanya benar. Tidak akuratnya informasi inilah yang biasanya menyebabkan munculnya masalah seksual pada remaja.

Berdasarkan Studi Mengenai Perilaku Seksual Kawula Muda tahun 2005 di empat kota besar di Indonesia, terungkap rata-rata remaja melakukan hubungan seksual pertama kali pada usia 18 tahun. Studi dengan mewawancarai 474 responden berusia 15-24 tahun di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan ini menyatakan sebagian besar responden (66%) remaja mengaku hubungan tersebut bukan perbuatan yang direncanakan sebelumnya sehingga tidak memakai alat kontrasepsi. Selain itu, 40% menjawab hubungan itu dilakukan di rumah.

Survei lain oleh sebuah lembaga nirlaba terhadap perilaku seksual remaja di empat kota besar Indonesia, 44% responden mengaku melakukan hubungan seks pertama kali di usia 16-18 tahun.

Hasil survei yang dilakukan Dra. Clara Istiwidarum Kriswanto, MA, CPBC, psikolog dari Jagadnita Consulting, menunjukkan sekitar 6-20% anak SMU dan mahasiswa di Jakarta pernah melakukan hubungan seks pranikah. Sebanyak 35% dari mahasiswa kedokteran di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta sepakat tentang seks pranikah. Sedangkan 20% dari 1.000 remaja di Bandung yang disurvei pernah melakukan seks bebas. Dengan jumlah remaja di Kabupaten Bandung sekitar 765.762, berarti jumlah remaja yang melakukan seks bebas sekitar 38-53 ribu.

Sementara menurut Penelitian Program Studi Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat tahun 2006, terpantau lima dari seratus pelajar setingkat SMA di Jakarta melakukan seks pranikah. Dalam penelitian yang dilakukan Rita Damayanti terhadap 8.941 pelajar dari 119 SMA/sederajat di Jakarta, menunjukkan seks pranikah yang dilakukan remaja laki-laki dua kali lebih banyak dibandingkan remaja perempuan. Adapun pola pacaran yang dilakukan antara lain berciuman bibir, meraba-raba dada, menggesekkan alat kelamin (petting) hingga berhubungan seks.

Dalam penelitiannya, Damayanti menyebutkan bahwa berpacaran adalah proses perkembangan kepribadian seorang remaja karena ketertarikan dengan lawan jenis. Namun, perkembangan budaya justru cenderung permisif terhadap gaya pacaran remaja. Akibatnya, para remaja cenderung melakukan hubungan seks pranikah.

Pendidikan seks sebaiknya didapatkan dari pihak keluarga ataupun sekolah, ini menunjukkan pentingnya keterbukaan antar guru, orang tua, dan murid. Agar lebih mudah diterima, bentuk penyampaian informasi ini bisa dilakukan dalam berbagai pendekatan dan disesuaikan dengan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. “Jadi penyampaiannya tidak harus dilakukan dalam bentuk vulgar,” lanjut Mulyadi.

sumber : inilah.com

_________________
Forum Kampus UPN

Admin
Admin
Admin

Male
Jumlah posting : 358
Lokasi : di area Hotspot UPN
Job/hobbies : Administrator
Registration date : 11.03.08

Lihat profil user http://upnjatim.forumeast.com

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik